Tampilkan postingan dengan label another side in my mind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label another side in my mind. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Mei 2008

Systematic Chaos

Menurut kamus wikipedia ; Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunanisustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat. (

Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti negara. Negara merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain seperti provinsi yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu negara dimana yang berperan sebagai penggeraknya yaitu rakyat yang berada dinegara tersebut.

Sedangkan Chaos adalah sebuah kekacauan, tidak adanya peraturan atau tata tertib

Jadi disini kalau menurut saya Sytematic Chaos adalah kekacauan yang disebabkan oleh tidak berfungsinya atau tidak berjalannya peraturan atau tata tertib yang dibuat secara “sempurna”.

Setelah harga BBM diumumkan naik oleh pemerintah maka dapat dipastikan kekacauan terjadi dimana-mana sopir-sopir kendaraan umum banyak yang melakukan aksi mogok akibat dari tidak diijinkannya Organda sebagai induk dari pengusaha transportasi umum menaikkan harga dan banyak mahasiswa dan masyarakat yang demo karena akibat dari naiknya BBM harga-harga sembako naik, bahkan minggu kemarin sampai sempat terjadi bentrok antara polisi dan mahasiswa Unas Jakarta yang banyak memakan korban dari pihak mahasiswa.

Sekarang kalau melihat ke belakang pihak mana yang harus bertanggung jawab atas semua kekacauan ini. Menuding pemerintah, jelas pemerintah tidak mau disalahkan mereka tentu beralasan bahwa menaikkan BBM adalah pilihan tersulit untuk menyelamatkan APBN, karena kalau APBN tidak bisa diselamatkan maka akan terjadi kekacauan yang lebih dahsyat. Bahkan tadi pagi say abaca dikoran wapres Jusuf Kalla malahan menuding pemerintahan terdahulu yang tidak bisa mengantur sumber daya minyak di Indonesia. Atau menyalahkan pasar dunia dimana harga minyak mentah sampai menembus $128 per barrel, tidak segampang itu.

Masing-masing pihak tentu mempunyai alasan kenapa pemerintah menaikkan BBM, kenapa harga minyak dunia bisa begitu tinggi, kenapa mahasiswa dan masyarakat demo menentang kenaikkan BBM. Tapi disini pemerintah sebagai otoritas tertinggi harus memberi solusi yang bisa meredakan kekacauan tersebut. Pemberian BLT saya rasa bukan solusi yang baik karena terkesan pemerintah memberi ikan bukan alat pancingnya, alangkah baiknya BLT dirupakan dalam bentuk padat karya. Yang disayangkan disini adalah cara pemerintah mengkomunikasikan kenaikan BBM kepada masyarakat, pemerintah seolah-olah bertindak arogan dalam penyampaian kenaikan BBM, dengan tidak mau mendengarkan atau memperhatikan solusi-solusi yang bisa mencegah kenaikan BBM.

Yang bisa dilakukan pemerintah untuk meredam kekacauan mungkin pemerintah bisa mendukung lembaga-lembaga atau individual yang bisa menciptakan energi alternative seperti yang ditemukan oleh Joko Suprapto dan Djoku Sutrisno dua orang yang memiliki kesamaan nama depan Joko sama-sama menemukan energi alternative yang memakai air atau hidro oksida sebagai bahan dasar,cukup menarik temuan tersebut mengingat bahan dasarnya adalah air yang merupakan sumber daya yang melimpah di Indonesia. Bila pemerintah bisa menseriusi temuan-temuan energi alternative tersebut dan hasilnya untuk kepentingan bangsa IndonesiaIndonesia. bukanya pihak asing, mungkin kredibilitas pemerintah bisa naik kembali di mata masyarakat

I Hope So…………………….


*Surabaya 29 Mei.......waktu bengong nunggui gajian

Senin, 26 Mei 2008

Don't Know

Di pertengahan bulan ini mata dan telinga saya mulai akrab dengan segala bentuk pencitraan diri seorang individual yang akan mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin suatu daerah atau bahkan pemimpin negara. Padahal katakanlah sebuah PILKADA atau PEMILU itu masih jauh pelaksanaannya tetapi mereka sudah berlomba-lomba mulai tebar pesona dimana-mana mulai dari banner yang ukurannya kecil yang ditempelkan di mana-mana sampai yang ukurannya sebesar pintu rumah yang penempatannya tidak mengindahkan tata ruang kota, asal tempat itu srastegis dan dilewati banyak orang maka disitulah terdapat hutan banner.

Berbagai tulisan atau janji lebih tepatnya dihembuskan manis oleh mereka para calon pemimpin mulai dari yang pemimpin jujur, bebas korupsi, keshatan dan pendidikan gratis dan seterusnya tetapi dari sekian banyak yang mereka kampanyekan ke masyarakat cenderung sama artinya mereka melebih-lebihkan apa yang nanti mereka berikan kepada masyarakat bila mereka kelak menjadi pemimpin, akankah itu menjadi kenyataan don’t know ?

Seharusnya kalau menurut saya yang harus mereka janjikan adalah perbaikan kinerja mereka, perbaikan birokrasi dalam melayani masyarakat karena dari situlah masyarakat sendiri yang akan menikmati, jangan cuma the answer lies within!

Saya juga melihat pengorbanan para calon pemimpin tersebut untuk membangun sebuah citra bagi dirinya agar kelihatan lebih daripada yang lainnya di mata masyarakat. Mereka para calon pemimpin mengeluarkan dana yang tidak sedikit hanya untuk agar lebih dikenal masyarakat. Berbagai cara dilakukan dari mulai yang klasik seperti memasang foto mereka di tempat-tempat srastegis, atau memberi dan menghiasi warung-warung kaki lima dan kendaraan transportasi umum seperti becak atau angkot dengan memberi nama warung atau jurusan sebuah angkot yang tentunya dengan foto calon pemimpin tersebut disertai dengan tulisan yang mengkampanyekan mereka atau yang sekarang lagi trend mengiklankan diri di televesi dan bahkan di bioskop 21. Mereka juga mulai menyewa lembaga-lembaga independent sebagai think tank mereka agar bisa memenangkan di pertarungan yang bernama PILKADA atau PEMILU. Sebuah harga yang mahal untuk sebuah demokrasi, dengan mengeluarkan uang, pikiran dan dana yang sebesar itu apakah nantinya bisa menjamin mereka menjadi seorang pemimpin don’t know?

Sebuah hal yang tragis bila para calon pemimpin tersebut dengan gila-gilaan mengeluarkan dana yang besar hanya untuk sebuah pencitraan diri, menginggat kondisi masyrakat di sekitar mereka yang mulai kesulitan untuk membeli BBM dan sembako, menyekolahkan anak-anak mereka atau sekedar memeriksakan diri bila sakit walaupun Cuma hanya di sebuah Puskesmas. Dan konyolnya hal-hal tesrsebut diatas yang dijual para calon pemimpin sebagai bahan kampanye mereka. Mungkin mereka para calon pemimpin berpikir dengan (pura-pura) memberi perhatian pada masyarakat mereka nantinya akan dipilih…hehehe dah basi, sekarang walaupun tidak semuanya masyarakat sudah semakin pintar dalam hal pendidikan politik. Mungkin mereka menerima apapun yang diberikan para calon pemimpin tersebut tapi untuk memilih mereka di ajang pemiihan daerah maupun umum masyrakat akan berpikit 10 kali untuk sekedar menjatuhkan pilihan mereka atau bahkan mereka tidak menjatuhkan pilihan, dan apakah para calon pemimpin tersebut tahu bahwa masyarakat yang dulu waktu kampanye diberikan sesuatu tetapi malah tidak memilih mereka don’t know?

Sampai kapan model-model kampanye atau pencitraan diri seperti ini berlangsung, tidak adakah partai-partai politik yang membawahi para calon pemimpin tersebut memberi pembelajaran tentang bagaimana berpolitik yang baik dan benar, yang bisa membuat program disemua bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, yang mudah dicerna dan memang dapat dikerjakan dan diwujudkan.

Kapan itu semua bisa terjadi………………………………………….don’t know

Selasa, 20 Mei 2008

Ada Apa Dengan Indonesia ?

Ada apa dengan Indonesia ? Sebuah pertanyaan iseng saya ketika melihat jargon baru untuk memperingati hari kebangkitan nasional yaitu Indonesia Bangkit, Indonesia Bisa. Sebuah pertanyaan dari dalam otak saya kenapa harus menunggu 100 th kebangkitan nasional pemerintah baru membuat jargon seperti itu "Indonesia Bangkit" apakah pemerintah Indonesia menunggu sumber daya alam negara kita habis digerogoti oleh negara asing, angka kemiskinan dan pengangguran terus meningkat, ekonomi negara yang tidak mampu menujukkan progress yang baik, biaya pendidikan dan kesehatan yang terus meninggi, angka rupiah yang dikorupsi oleh oknum yang semakin besar, atau prestasi olahraga negara Indonesia yang semakin menurun. Saya sendiri pun tidak tahu persisnya kenapa pemerintah Indonesia membuat jargon seperti itu apakah memang benar-benar ingin bangkit dari segala keterpurukan dari berbagai hal atau hanya sebuah jargon saja hmmm hanya tuhan yang tahu.
Menurut saya sih kenapa harus menunggu 100 th baru menyatakan "Indonesia Bangkit" apakah harus menunggu selama itu baru berbuat untuk negara tercinta ini, kadang dalam hati saya berkata negara Indonesia ini merupakan negara yang aneh, kenapa kok aneh saya tidak perlu menjelaskan disini karena terlalu banyak yang dijelaskan untuk sebuah keanehan Indonesia salah satunya ya jargon "Indonesia Bangkit" tersebut. Secara bercanda saya berpikir mau bangkit dari mana Indonesia, dari segala aspek kita sudah babak belur, sedangkan pemerintah sendiri masih sibuk menjelang kenaikan BBM dan PEMILU. Di sisi lain banyak pihak atau perorangan yang benar-benar berjuang dengan karya dan pemikirannya untuk kemajuan Indonesia, dari hasil karya dan pemikiran mereka timbul hasil yang cukup mengembirakan walaupun hasil mereka tidak bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia tetapi bagi saya itu sebuah hal yang membanggakan.
Yang aneh disini kenapa pemerintah Indonesia tidak mengakomodasi hasil karya dan pemikiran anak bangsa yang cukup membanggakan, pada hal hasil dari karya dan pemikiran tersebut kalaupun pemerintah bisa untuk mendalami dan dikelola secara serius maka saya rasa hasilnya akan bisa membantu walaupun sedikit tetapi cukup untuk membantu memulihkan keadaan Indonesia yang sudah babak belur. Apa sih yang membuat enggan pemerintah menseriusi hasil dari karya dari anak bangsa tersebut apakah pemerintah kurang berminat atau gimana saya sendiri masih bingung.
Entah pemerintah serius atau tidak dengan jargon "Indonesia Bangkit" saya harap pemerintah benar-benar serius untuk memperbaiki kinerjanya agar lebih baik lagi dimata sekitar 250 juta rakyat Indonesia. walaupun hanya sekedar harapan semoga itu bisa terjadi, entah itu kapan ?

Rabu, 30 April 2008

Menghargai Arti Sebuah Makna

Siang ini saya berkunjung ke kantor teman saya, setelah ngobrol panjang lebar tentang berbagai hal dan makan siang walaupun hanya dengan mie instant dan air putih tetapi itu bukan suatu masalah besar yang penting bagi saya adalah kebersamaannya. Setelah jam istirahat selesai teman saya tersebut akan melanjutkan pekerjaannya dan saya juga akan berpamitan akan balik ke kantor, ketika akan pulang dan saya akan membayar gorengan yang telah saya makan disitu saya mengetahui bahwa teman saya tersebut sarapan pagi harinya hanya tiga potong tahu. Dengan bercanda saya lontarkan ucapan “masa sarapan cumin tahu goreng doang”, lalu teman saya membalasnya “jangan lihat tahu gorengnya tapi manfaatnya ketika ada di dalam perut”. Whuiiih meskipun saya tahu dia hanya bercanda tapi dari situ saya mengerti bahwa menhargai suatu makna dari suatu hal jangan dilihat hal itu sepele apa tidak, penting atau tidak penting tapi arti atau manfaat apa yang bisa kita ambil dari hal tersebut.

Sekarang kita sulit untuk memahami sebuah arti dari suatu hal, sama ketika seorang Gus Dur menjadi seorang pemimpin negara, ketika itu beliau sering melontarkan joke-joke atau opini-opini yang sering disalah artikan oleh sebagian orang yang mendengar atau membacanya, padahal kalau kita memahami lebih dalam lagi akan banyak hal-hal yang penting yang terkandung didalamnya. Seperti misalnya ketika beliau membuat kebijakan dengan membuka lebar-lebar untuk agama dan kepercayaan untuk berkembang di Indonesia walaupun banyak yang menerima kebijakan tesebut tetapi banyak juga yang kontra dengan kebijakan tersebut. Saya sendiri berpikir toh agama atau kepercayaan adalah hak masing individu kenapa harus dibatasi, meskipun agama ataupun kepercayaan tersebut melenceng atau membuat pengertian lain dari suatu agama yang sudah ada, toh bilapun itu benar salah para individu yang menganutnya yang akan menangungnnya.

Saya jadi ingat salah satu joke Gus Dur, ketika itu Gus Dur menyatakan, banyaknya ajaran kepercayaan tidak perlu diributkan atau dipermasalahkan. Soal ritual mereka berbeda dengan umat Islam pada umumnya, itu urusan lain lagi.

"Kenapa mereka kita paksa supaya sama dengan kita?," tanya Gus Dur heran.

Pada kesempatan ini, Gus Dur juga menyatakan, hanya orang goblog yang menganggap dirinya saja yang benar dan masuk surga, sementara orang lain yang berbeda salah dan masuk neraka.

"Kalau kita sudah tahu mereka goblog, ya sudah. Kenapa pusing-pusing amat sih?," kata Gus Dur santai.

Hmm meskipun diungkapan dengan joke tapi kalau kita memahami lebih dalam lagi betapa besar toleransi yang di ucapkan beliau kepada agama atau kepercayaan lain. Disini kita bisa melihat untuk memahami arti dari sebuah hal adalah bagaimana cara kita memandang hal tersebut, dari sisi mana kita memahami arti sebuah hal tersebut. Bila kita memandang dari sisi positifnya maka mungkin kita akan mendapat suatu manfaat atau bahkan pengetahuan baru yang selama ini belum kita dapatkan. Pentingnya sebuah positive thinking sangat penting dalam memahami sebuah hal. Jangan sekali-sekali memandang remeh, menyepelekan atau bahkan menganggap suatu hal tersebut remeh, karena kadang-kadang suatu hal yang semula kita anggap sepele tersebut didalamnya menyimpan suatu yang penting atau bermanfaat bagi kita.

Sekarang tergantung dari kita masing-masing individu untuk menyikapi atau menghargai arti sebuah makna. Karena tiap-tiap individu berbeda cara pandangnya untuk menyikapi atau menghargai suatu hal.

Senin, 28 April 2008

Anything Possible

Sebuah jargon dari merk minuman ringan yang mengklaim produknya memiliki rasa yang sama walaupun tidak memakai gula, mereka para produsen itu menganggap bahwa segalanya mungkin bisa saja terjadi. Tapi disini saya tidak akan membahas keunggulan dan kekurangan minuman ringat tersebut.

Anything possible atau segalanya bisa saja terjadi. Ungkapan ini mulai sering menghuni isi kepala saya ketika membaca atau melihat berita-berita baik di koran maupun televesi, isi-isi berita tersebut bermacam-macam mulai para anggota dewan yang mulai resah karena tindakannya kini sudah mulai terendus dan mungkin akan terbongkar semua oleh KPK, para artis yang mulai ikut Pilkada baik itu di tingkat provinsi atau daerah, berita mulai langkanya minyak dan bbm dan masih banyak yang lainnya.

Saya jadi teringat apa yang pernah dikatakan oleh teman saya, dia beranggapan bahwa Indonesia adalah negara yang membingungkan. Saya sempat bingung juga apa yang teman saya maksud, menurut dia Indonesia memang negara yang membingungkan, bingung dalam membuat peraturan, bingung dalam mengambil keputusan, dan masih banyak kebingungan yang dialami para pejabat dan pemimpin yang mengawal negeri ini. Setelah saya telaah lagi memang ada benarnya juga ungkapan yang dilontarkan oleh teman saya, di sini ada pertanyaan untuk diri saya sendiri, kenapa kalu saya membenarkan ungkapan teman saya dan teman saya melontarkan ungkapan itu masih bertahan hidup dan mencari nafkah di Indonesia ? Saya sendiri masih bingung kenapa semuanya itu bisa terjadi, jawabannya sekali lagi anything possible. Segalanya bisa saja terjadi di negara yang mempunyai peraturan dan kebijakan yang membingungkan tergantung dari individu masing-masing bagaimana menyikapi peraturan dan kebijakan yang kadang-kadang aneh dan membingungkan.

Sebut saja yang masih hangat dalam otak kita pemerintah mengeluarkan UU-ITE. Undang-undang yang mengatur tentang teknologi informatika dan elektronik, disana uu tersebut salah satunya melarang atau memblocking situs atau web yang bermaterikan pornografi, begitu peraturan tersebut diberlakukan banyak forum atau komunitas di dunia maya menghapus semua materi pornografi di dalamnya selain situs-situs porno yang sudah di block oleh masing-masing provider. Bisa ditebak tidak lama setelah diberlakukan banyak protes-protes bermunculan, tetapi protes-protes tersebut akhirnya reda dengan sendirinya karena blocking yang dilakukan provider tidak sepenuhnya berjalan, sekali lagi anything possible. Terus tak lama kemudian pemerintah –lagi DEPKOMINFO mengelurkan kebijakan yang sangat aneh mnurut saya yaitu memblokir semua web atau situs yang memuat film FITNA sebauah film yang menghujat umat islam, ini yang membingungkan bagi saya. Jelas-jelas film itu merupakan propaganda untuk umat muslim tetapi kenapa orang dengan itelektual yang tinggi bisa-bisanya termakan propaganda murahan yang dilancarkan oleh politikus dari belanda tersebut. Dan lagi-lagi kebijakan tersebut dicabut karana benayaknya protes yang dilakukan oleh masyarakat, anything possible.

Anything possible, tergantung kita para individu menyikapai suatu masalah atau kebijakan baik itu di tempat kerja, kehidupan sehari-hari, ditempat kerja atau di negara kita sendiri. Bagaimana kita bisa membuat diri kita nyaman atau mungkin bisa mengambil keuntungan dari apa yang kita alami.

Saya jadi teringat lagi apa yang pernah dikatakan oleh salah satu petinju legendaris dunia Muhammad Ali “Impossible Is Nothing”

Minggu, 20 April 2008

Another Day

You won't find it here
Look another way
You won't find it here
So try another day

Sepenggal bait lagu yang berjudul Another Day dari salah satu band favorit saya Dream Theater yang menceritakan tentang bila kau tidak bisa menemukan atau mendapatkan impianmu hari ini cobalah meraihnya di hari berikutnya atau dengan cara lain, karena hari esok harus lebih baik dari hari ini. Salah satu ungkapan yang sampai sekarang belum bisa saya terapkan secara konsisten atau terus menerus dalam kehidupan saya, kelihatan sih emang simple apa yang kita lakukan hari ini, maka kita harus melakukan lebih baik lagi dari hari kemarin terkadang kita bisa melakukan kadang saya bisa melakukan hal tersebut kadang juga apa yang saya lakukan sekarang tidak lebih baik dari hari kemarin.

Sambil meminum segelas coffee latte saya coba merenungkan diri apa saja yang telah saya lakukan untuk hidup, keluarga dan lingkungan saya. Apakah saya telah melakukan hal yang terbaik untuk saya sendiri dan mereka, saya sendiri tidak bisa menilainya hanya tuhan yang tahu apakah yang saya perbuat selama ini sudah cukup baik bagi saya, keluarga dan lingkungan saya.

Hal ini mungkin juga terjadi di kehidupan negara kita Indonesia ( yang menurut teman saya negara yang mempunyai tatanan kehidupan yang membingungkan hahaha…), banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini apalagi sekarang lagi musim pemilihan kepala daerah, banyak para calon pemimpin daerah mencoba meraih mimpinya dengan berbagai cara, fenomena yang sudah biasa bila ada pemilihan pemimpin. Banyak jaji manis yang bertebaran yang pada intinya akan membawa kebaikan pada kehidupan yang lebih baik, apakah itu nantinya bisa terlaksana atau tidak bukan masalah bagi mereka, yang penting bagi mereka menebar janji manis pada masyarakat menarik simpati agar nantinya mereka bisa terpilih, dan parahnya lagi masyarakat umumnya percaya pada bualan – menurut saya – para calon pemimpin. Dan jika seandainya para calon pemimpin tersebut benar-benar menjadi pemimpin, dan janji mereka pada saat kampanye tidak bisa direalisasikan masyarakat sendiri yang menjadi korban.

Sebegitu sulitnya berbuat lebih baik bagi sesama, keluarga dan kita sendiri. Saya sendiri belum bisa menjawab saya kembalikan pada individu masing-masing bagaimana menyikapinya. Bagi saya pribadi berbuat baik terlebih dahulu pada diri sendiri, keluarga dan sekitar lingkungan, dan bila itu semua bisa kita lakukan barulah berbuat baik pada level yang lebih tinggi.

They took pictures of our
dreams
Ran to hide behind the stairs
And said maybe when it's right
for you, they'll fall
But if they don't come down
Resist the need to pull them in
And throw them away
Better to save the mystery
Than surrender to the secret

Segelas kopi di pagi hari cukup untuk memulai aktivitas hari ini, apakah nantinya apa yang kita perbuat bisa membuat sesuatu hal lebih baik lagi…………..



thanx for Dream Theater for the inspiration