Senin, 26 Mei 2008

Don't Know

Di pertengahan bulan ini mata dan telinga saya mulai akrab dengan segala bentuk pencitraan diri seorang individual yang akan mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin suatu daerah atau bahkan pemimpin negara. Padahal katakanlah sebuah PILKADA atau PEMILU itu masih jauh pelaksanaannya tetapi mereka sudah berlomba-lomba mulai tebar pesona dimana-mana mulai dari banner yang ukurannya kecil yang ditempelkan di mana-mana sampai yang ukurannya sebesar pintu rumah yang penempatannya tidak mengindahkan tata ruang kota, asal tempat itu srastegis dan dilewati banyak orang maka disitulah terdapat hutan banner.

Berbagai tulisan atau janji lebih tepatnya dihembuskan manis oleh mereka para calon pemimpin mulai dari yang pemimpin jujur, bebas korupsi, keshatan dan pendidikan gratis dan seterusnya tetapi dari sekian banyak yang mereka kampanyekan ke masyarakat cenderung sama artinya mereka melebih-lebihkan apa yang nanti mereka berikan kepada masyarakat bila mereka kelak menjadi pemimpin, akankah itu menjadi kenyataan don’t know ?

Seharusnya kalau menurut saya yang harus mereka janjikan adalah perbaikan kinerja mereka, perbaikan birokrasi dalam melayani masyarakat karena dari situlah masyarakat sendiri yang akan menikmati, jangan cuma the answer lies within!

Saya juga melihat pengorbanan para calon pemimpin tersebut untuk membangun sebuah citra bagi dirinya agar kelihatan lebih daripada yang lainnya di mata masyarakat. Mereka para calon pemimpin mengeluarkan dana yang tidak sedikit hanya untuk agar lebih dikenal masyarakat. Berbagai cara dilakukan dari mulai yang klasik seperti memasang foto mereka di tempat-tempat srastegis, atau memberi dan menghiasi warung-warung kaki lima dan kendaraan transportasi umum seperti becak atau angkot dengan memberi nama warung atau jurusan sebuah angkot yang tentunya dengan foto calon pemimpin tersebut disertai dengan tulisan yang mengkampanyekan mereka atau yang sekarang lagi trend mengiklankan diri di televesi dan bahkan di bioskop 21. Mereka juga mulai menyewa lembaga-lembaga independent sebagai think tank mereka agar bisa memenangkan di pertarungan yang bernama PILKADA atau PEMILU. Sebuah harga yang mahal untuk sebuah demokrasi, dengan mengeluarkan uang, pikiran dan dana yang sebesar itu apakah nantinya bisa menjamin mereka menjadi seorang pemimpin don’t know?

Sebuah hal yang tragis bila para calon pemimpin tersebut dengan gila-gilaan mengeluarkan dana yang besar hanya untuk sebuah pencitraan diri, menginggat kondisi masyrakat di sekitar mereka yang mulai kesulitan untuk membeli BBM dan sembako, menyekolahkan anak-anak mereka atau sekedar memeriksakan diri bila sakit walaupun Cuma hanya di sebuah Puskesmas. Dan konyolnya hal-hal tesrsebut diatas yang dijual para calon pemimpin sebagai bahan kampanye mereka. Mungkin mereka para calon pemimpin berpikir dengan (pura-pura) memberi perhatian pada masyarakat mereka nantinya akan dipilih…hehehe dah basi, sekarang walaupun tidak semuanya masyarakat sudah semakin pintar dalam hal pendidikan politik. Mungkin mereka menerima apapun yang diberikan para calon pemimpin tersebut tapi untuk memilih mereka di ajang pemiihan daerah maupun umum masyrakat akan berpikit 10 kali untuk sekedar menjatuhkan pilihan mereka atau bahkan mereka tidak menjatuhkan pilihan, dan apakah para calon pemimpin tersebut tahu bahwa masyarakat yang dulu waktu kampanye diberikan sesuatu tetapi malah tidak memilih mereka don’t know?

Sampai kapan model-model kampanye atau pencitraan diri seperti ini berlangsung, tidak adakah partai-partai politik yang membawahi para calon pemimpin tersebut memberi pembelajaran tentang bagaimana berpolitik yang baik dan benar, yang bisa membuat program disemua bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, yang mudah dicerna dan memang dapat dikerjakan dan diwujudkan.

Kapan itu semua bisa terjadi………………………………………….don’t know

1 komentar:

torasham mengatakan...

wah, ndeso mas ini.
Wiranto sudah memulai model kampanye baru, "attacking champaign". Model ini diperbolehkan asal punya data yang akurat. Karena kalau tidak punya, maka kampanye model ini disebut "black champaign"